Rabu, 13 Maret 2013

Kultum: Awet Muda Dengan Bersabar

Written By: Dr.Dianova Anwar

www.dianovaanwar.blogspot.com Kita sering mendapati banyak buku dan artikel-artikel yang membahas bagaimana agar kita bisa terlihat  awet muda. Saya katakan “terlihat”, sebab tidak ada manusia yang dapat menghindar dari fase tua,namun berumur tua bukan berarti mesti harus terlihat tua juga. Bahkan tidak sedikit kosmetik-kosmetik yang menawarkan”ramuan” awet mudanya lewat produk-produk yang harganya dapat mengoyak kantong, untuk kebutuhan kaum hawa yang satu ini. Terkadang tanpa banyak berfikir, begitu iklan ditayangkan segera mencari produk yang dimaksud. Padahal,rahasia untuk terlihat awet muda sangatlah mudah dan murah. Hidup sehat dengan berolahraga, makan dan istirahat yang teratur, makan-makanan yang bergizi (menjauhi fast food dan junk food), perbanyak makan sayur-sayuran dan buah-buahan serta menghindari rokok dan alkohol.
Dari kacamata Islam,kita sering mendengar “Senyumlah, karena senyum adalah sedekah”. Ini adalah cara termurah dan termudah yang bisa kita lakukan dimana saja dan kapan saja.Terkait dengan senyum, kita melirik istilah sabar. Karena sabar adalah satu kata yang simple dan sering diucapkan, namun dalam praktek keseharian agak sedikit susah diterapkan.
Sabar merupakan kemampuan seseorang dalam menahan diri dan emosi dalam menghadapi berbagai situasi, apapun itu bentuknya. Oleh karenanya, sabar mencakup banyak aspek. Sabar bukan hanya suatu sikap yang sangat dibutuhkan ketika kita ditimpa musibah,namun sabar juga perlu diterapkan dalam beribadah dan beramal sholeh bahkan di saat kita mendapatkan kebahagiaan. Dengan kata lain, sabar bisa di-orientasikan kepada  banyak hal di dalam kehidupan.
 
Sabar ketika ditimpa musibah adalah persepsi umum yang sering kita dengar ketika seseorang ditimpa musibah,baik berupa bencana, sakit, kemelaratan maupun kematian.” Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka akan berkata “ Innâlillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn ( Sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nyalah kami kembali) (QS.2 : 155-156).

Dalam hal beribadah kita juga dituntut untuk bersabar. Tak sedikit seorang Muslim yang pada mulanya rajin sholat ke mesjid, lama kelamaan menjadi malas,sehingga ia pada akhirnya merasa lebih nyaman sholat sendirian di rumah; atau tak sedikit seorang muslim yang tadinya rajin sholat sunnat atau puasa sunnat, lama kelamaan susut dihempas oleh kebosanan. Apalagi kalau doa-doanya banyak yang masih belum terkabulkan juga, mungkin timbul  baginya rasa jenuh. Demikian pula dalam hal beramal sholeh atau dalam berbuat kebaikan, harus senantiasa sabar. Tidak boleh bosan, tidak boleh menyerah oleh keadaan. Harus istiqomah, selalu mencari jalan untuk senantiasa beramal sholeh, untuk tetap bermanfaat bukan hanya bagi dirinya sendiri tapi juga bagi orang lain.Yang agak susah dan sering kita lupa adalah sabar ketika kita mendapat kesenangan. Bagaimana jenis sabar yang satu ini? Masak ketika ditimpa musibah harus sabar, pun ketika mendapat kebahagiaan mesti sabar. Sabar ketika mendapatkan kebahagiaan dibutuhkan untuk menghindarkan munculnya sifat mazmumah (sifat buruk) kesombongan atau ketakabburan. Artinya  kebahagiaan  juga merupakan ujian, hanya saja dalam bentuk lain. Apakah kita sabar untuk menjadi orang yang tawadhu dan sederhana (tidak berlebih-lebihan atau menghambur-hamburkan) meskipun kita mampu. Allah melarang kita untuk menghambur-hamburkan harta secara boros, sesungguhnya orang-orang yang pemboros adalah saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya (QS.17: 26-27).
 
Sabar ketika dihujat atau dapat menahan amarah adalah salah satu jenis sabar yang paling sukar untuk dilakukan. Tak heran bila dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah mengulangi kata-kata “Laa Taghdhob” yang artinya “Jangan Marah” sampai beberapa kali, ketika seorang laki-laki meminta kepadanya untuk memberi wasiat. Dalam hadist lain yang begitu populer, dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW beersabda: “ Bukanlah orang yang kuat itu karena keahliannya bergulat, orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan dirinya ketika marah ( HR. Mutafaqq ‘Alaih). Dari sisi kesehatan disebutkan, bahwa ketika seseorang marah maka syaraf-syarafnya akan tertarik kencang, yang mana hal ini mengakibatkan ketegangan, sehingga urat-uratnya pun bermunculan, sebagai salah satu tanda penuaan. Sebaliknya orang yang senantiasa tersenyum dan sabar,mampu menahan emosinya, membuat syaraf-syarafnya relaks, ini yang membuatnya  terlihat awet muda. Kesabarannya tercermin dari wajahnya yang senantiasa senyum dan berfikiran positif,tidak suka berprasangka buruk, selalu husnu zhon atau berprasangka baik, tidak negative thinking (QS.49:12).
Sabar adalah salah satu akhlaqul karimah (akhlaq yang mulia) yang  sangat diutamakan. Orang-orang yang sabar tidak akan pernah sedih sebab mereka sadar, Allah senantiasa bersama mereka. Akhirnya, bila kita mendapat masalah dalam kehidupan ini hendaklah kita bersabar dan sholat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS.2: 153).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar