Jumat, 07 Desember 2012

TAK PUTUS DIRUNDUNG MALANG, KARYA S.T.A


www.dianovaanwar.blogspot.com Tak Putus Dirundung Malang adalah sebuah novel karya Sutan Takdir Alisyahbana,yang diterbitkan pertama kali di tahun 1929 oleh penerbit Dian Rakyat.Novel ini telah dicetak ulang beberapa kali,karena keindahan nilai sastranya.Novel ini menambah deretan panjang diantara novel-novel ’fenomenal’ yang ditulis oleh Sutan Takdir Alisyahbana.Selain Layar Terkembang dan Dian Yang Tak Kunjung Padam,yang juga merupakan karya Sutan Takdir Alisyahbana,novel ini juga merupakan salah satu novel favorit penulis. Ntah kenapa,penulis lebih suka novel-novel karya sastra Indonesia lama daripada yang sekarang.Adanya kalimat-kalimat yang bersajak-sajak atau menggunakan kata-kata kiasan mungkin menjadi diantara alasan mengapa penulis lebih jatuh hati kepada novel-novel sastra Indonesia lama.   
 
Novel Tak Putus Dirundung Malang memiliki tema yang berbeda dengan tema yang pada umumnya diusung oleh para penulis-penulis prosa lama yang bertemakan kasih yang tak sampai di pelaminan, serta kawin dengan dijodohkan dan berakhir tanpa kebahagiaan.Novel ini bercerita tentang dua kakak beradik yatim piatu,Mansur dan Laminah, yang tak putus dilanda gelombang cobaan hidup, dengan setting Dusun Ketahun,kota Bengkulu.Berawal dengan tiadanya ibu mereka,kemudian disusul oleh ayahanda tercinta.Mereka pun tinggal dengan bibi mereka, Jepisah,yang sangat menyayangi mereka.Madang,suami Jepisah,pada awalnya juga menyayangi merekea,namun tak lama berselang prilakunya berubah kepada kedua anak yatim piatu itu.Ia bukan hanya melukai perasaan mereka dengan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan,namun ia juga melakukan kekerasan fisik dengan memukul dan menendang mereka.Hingga pada suatu ketika, terjadilah kesalah fahaman,yang menyebabkan mereka meninggalkan bibi yang mereka sayangi itu.Mansur dan Laminah menetap di rumah datuk Halim beserta istrinya yang bernama Seripah. Kedua orang tua ini memperlakukan mereka sebagaimana layaknya,mengasihi dan menyayangi anak yatim piatu.Pada akhirnya,kakak beradik ini meninggalkan Datuk Halim dan istrinya, dikarenakan tidak ingin lebih merepotkan kedua orangtua itu lagi.Mereka pun berangkat dari Dusun Ketahun, merantau ke kota Bengkulu.       
 
Di Bengkulu,Mansur dan Laminah tinggal di kampung Cina dan bekerja di sebuah toko roti yang dimiliki oleh seorang toke.Untuk sementara mereka hidup dengan tenang disana selama beberapa tahun,sampai pada akhirnya muncul lah Samin,seorang pegawai baru di toko roti dimana mereka bekerja.Samin,bukan saja berbadan kekar dan berotot,akan tetapi ia juga memiliki sikap yang menakutkan,sehingga keberadaannya benar-benar membuat Laminah tidak nyaman.Sebagai kakak Laminah,Mansur sudah tentu tidak berdiam diri,ia pun memperingatkan Samin hingga akhirnya terjadi perkelahian.Pasca terjadinya perkelahiaan Mansur-Samin,Mansur mengambil inisiatif untuk pindah tempat kerja bersama adiknya.Di tempat kerja yang baru pun,ternyata cobaan kembali menerpa mereka berdua.Mansur dimasukkan ke dalam sel tahanan setelah ia dituduh mencuri.Pada saat ia didalam penjara inilah,kehormatan Laminah hampir direnggut oleh Darwis,temannya dulu ketika ia masih bekerja di toko roti.Peristiwa yang terakhir inilah yang mendorong Laminah untuk bunuh diri;ia tidak tahan lagi akan deraan hidup yang terus bertubi-tubi,ia pun mengakhiri hidupnya dengan melompat dari tebing curam ke lautan luas.       
 
Setelah beberapa lama Mansur berada dalam dekaman penjara,ia pun menghirup udara bebas.Tak lama berselang,terdengarlah olehnya kabar tentang kematian adiknya.Mansur berusaha untuk tabah,ia benar-benar telah sebatang kara,tanpa orangtua dan tanpa adik tercintanya lagi, Laminah.Pada suatu saat,tanpa Mansur sadar,ketika ia terus memikirkan jalan kehidupannya,dalam keadaan tubuh yang lemah,ia jatuh pingsan dan tenggelam di lautan ketika berlayar.Jenazahnya menghilang dan tidak diketemukan.....  
 
Novel ini mengandung pesan,seberapa pahit dan getirnya kehidupan,hendaknya kita tetap sabar dalam mengarunginya.Membaca novel ini akan membawa kita seolah-olah merasakan betapa menderitanya kedua anak yatim piatu tersebut.Kesengsaraan demi kesengsaraan, kepedihan demi kepedihan,cobaan demi cobaan,tak putus dirundung malang…..
 
 
 
 
 












Tidak ada komentar:

Posting Komentar